|
topik
Mengglindingkan
masa depan musik seni Indonesia mutakhir
Tidak
perlu risau jika Indonesia menjadi semacam danau bagi
perhelatan musik seni mutakhir, yang memang sejak dari abad
lampau nusa Indonesia merupakan titik persilangan budaya yang
sampai awal abad 21 ini semakin terasa kekayannya. Kita bisa
melihat perkembangan karya mutakhir baik yang berangkat dari
tradisi musik nusantara, maupun yang fasih menggunakan medium
non tradisi. Kedua wilayah ini semakin matang dengan
persentuhannya atas keragaman ideologi musik yang musti
disadari sebagai basis kekayaan citarasa estetika musik di
Indonesia.
Lantas
sampai dimana potret musik kita sampai saat ini?. Persoalan
latennya kiranya masih pada mempersiapkan sumber daya manusia
musiknya yang harus mampu bersaing dan mengakomodasi
pergeseran budaya Indonesia saat ini. Namun, ini masih gelap
karena sampai saat ini ketersediaan SDM musik yang berkualitas
masih jauh dari ideal. Beberapa tertangkap ketika
berlangsungnya Festival Musik Kontemporer Yogyakarta yang
ke-5. Para penyajinya masih belum akrab dengan bahasa musik
seni mutakhir. Akibatnya, karya yang disajikan gagasan
musikalnya kurang terbaca dengan baik. Ini menjadi catatan
penting bagi Yogyakarta yang musti sadar dengan kekayaan SDM
musik yang cukup melimpah namun belum terasah dengan baik.
Apakah
persoalan tersebut perlu dikembangkan sampai pada kenyataan
pahit kwalitas pendidikan tinggi seni musik kita yang
membingungkan? Kenapa mereka seolah digolongkan sebagai mahluk
tak ilmiah karena tidak pinter penelitian dan nulisnya
belepotan? Kurikulum musik yang semakin jauh dari kenyataan
seni dan terlalu formal? apa yang
terjadi sehingga para penyaji ini tidak dikelola dengan
semestinya?. Secara logis, jika dikelola maka para pelaku ini
akan lebih siap dengan segala macam bentuk pergeseran budaya,
baik itu terjadi diwilayah estetika maupun kehidupan musikal
secara umum.
Penyaji
menjadi tolok ukur kemajuan kehidupan musik
Kita
bisa menyaksikan bila para instrumentalis yang memiliki
ketrampilan prima ini bisa menjadi ukuran pasti sehat atau
tidaknya kehidupan musik disuatu negara. Jika instrumentalis
itu prima, maka karya yang dimainkan akan terbaca gamblang
gagasan musikalnya. Bila gagasan itu gamblang, maka pemirsa
yang mendengarnya akan memahami 100% jalinan komunikasi antara
komponis –
karya –
dan masyarakatnya. Jika ini pemirsa paham, maka akan tumbuh
pemahaman bahwa menikmati gagasan baru juga bisa melalui
musik. Jika ini tercium oleh para patron musik, maka niscaya
mereka akan bangga memberikan secuil laba dananya untuk
membuat mekanisme pemesanan karya baru atau turut menyokong
berdirinya sebuah orkestra negara dalam berbagai kepentingan
yang mendukung perkembangan budaya mutakhir Indonesia. Jika
ini berjalan, maka banyak orang akan belajar musik dengan
capaian estetika yang tinggi, karena mereka percaya bahwa
melalui musik, mereka bisa menginfestasikan keahliannya untuk
peningkatan kwalitas hidup. Tapi ini masih menjadi mimpi
berat, karena pendidikan tinggi musik kita masih berdebat
kusir tentang musik itu ilmiah atau tidak...!
|